Surabayaaktual.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berkomitmen memperkuat sistem keamanan data internal melalui pengukuran tingkat kesadaran keamanan informasi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).
Upaya ini diwujudkan lewat penerapan Human Aspects of Information Security Questionnaire (HAIS-Q), sebuah inovasi untuk mengevaluasi pemahaman ASN terhadap praktik keamanan informasi.
Kepala Bidang Keamanan dan Infrastruktur Teknologi Informasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kota Surabaya, Yudho Febriadi, menyampaikan bahwa HAIS-Q dirancang untuk mengukur tujuh aspek penting dalam keamanan informasi.
Ketujuh aspek tersebut meliputi manajemen kata sandi, etika penggunaan email dan internet, interaksi di media sosial, keamanan perangkat seluler, penanganan informasi sensitif, serta prosedur pelaporan insiden.
“Metode pengukuran ini mengevaluasi tiga hal utama, yaitu aspek pengetahuan ASN terhadap kebijakan dan prosedur keamanan, aspek sikap positif terhadap kebijakan tersebut, dan aspek perilaku nyata dalam menjaga keamanan informasi,” terang Yudho dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (27/5/2025).
Sejak diterapkan pada 2023, hasil pengukuran menggunakan HAIS-Q menunjukkan keragaman tingkat kesadaran antar Perangkat Daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya. Namun secara umum, tingkat kesadaran keamanan informasi di kalangan ASN sudah berada dalam kategori baik.
“Pengukuran ini diutamakan bagi ASN karena merekalah yang memiliki akses dan mengoperasikan sistem serta aplikasi internal Pemkot Surabaya. Pemahaman yang baik terkait keamanan informasi tentu menjadi krusial,” imbuhnya.
Inisiatif ini juga merupakan implementasi dari Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 68 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), serta Perwali Nomor 62 Tahun 2023 tentang Pedoman Pelaksanaan Manajemen Keamanan Informasi Pemerintahan Berbasis Elektronik.
Yudho menambahkan bahwa setelah proses pengukuran, Dinkominfo juga aktif melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada ASN. Langkah ini dilakukan agar pemahaman tentang pentingnya keamanan informasi dapat meningkat. Hal-hal sederhana seperti menghapus tulisan di papan setelah rapat atau menggunakan kata sandi yang kuat, menjadi contoh nyata dalam pendampingan.
“Semakin aman sebuah sistem, terkadang memang terasa kurang nyaman bagi pengguna. Namun, keamanan data adalah prioritas. Kami terus memberikan pemahaman mengenai pentingnya langkah-langkah sederhana namun efektif dalam menjaga informasi,” kata Yudho.
Bagi ASN yang tingkat kesadarannya masih belum optimal, Dinkominfo melakukan evaluasi lanjutan serta memberikan pengarahan lebih intensif. Mengingat pesatnya perkembangan teknologi, tren dan ancaman keamanan terbaru juga akan terus diinformasikan secara berkala.
“Di dalam SPBE, keamanan informasi menjadi salah satu indikator penting, apalagi menuju pemerintahan berbasis digital di tahun 2026. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran keamanan ini harus terus didorong dan didampingi,” tegas Yudho.
Inovasi HAIS-Q sendiri hadir sebagai bentuk keseriusan Pemkot Surabaya dalam memastikan setiap ASN memahami dan menerapkan prinsip-prinsip keamanan informasi. Selain itu, ASN juga diharapkan menjadi teladan dalam penerapan teknologi informasi yang aman dan bertanggung jawab.
“Kami memiliki target untuk terus meningkatkan kesadaran keamanan informasi ASN. Jika saat ini rata-rata sangat baik, harapan kami di tahun berikutnya bisa meningkat signifikan. Dengan meningkatnya kesadaran seluruh ASN, tata kelola pemerintahan digital di Surabaya juga akan semakin baik,” tandasnya.
Yudho berharap, kehadiran HAIS-Q dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat sistem keamanan informasi Pemkot Surabaya, sekaligus memberikan rasa aman bagi seluruh pihak, baik internal pemerintahan maupun masyarakat.
“Harapannya ketika semua sudah semakin baik, tentunya iklim ataupun tata kelola pemerintahan digital akan semakin baik di lingkup Pemkot Surabaya,” pungkasnya. ***



