Surabayaaktual.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Surabaya bergerak cepat mengantisipasi potensi lonjakan harga komoditas pangan, khususnya cabai dan bawang merah, menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sebagai langkah proaktif, Pemkot Surabaya menggelar gerakan tanam cabai dan bawang merah serentak yang melibatkan masyarakat umum hingga kelompok tani.
Kegiatan ini berlangsung di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) Jambangan, Jalan Jambangan Kebon Agung No 46, Surabaya, Rabu (20/8/2025).
Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, mengatakan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari program Urban Farming Competition yang sudah berjalan sebelumnya. Menurutnya, gerakan ini bukan hanya seremonial, melainkan strategi nyata untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus stabilitas harga di pasar.
“Pagi ini tadi tim TPID membuat kegiatan tindak lanjut. Jadi, Urban Farming Competition itu adalah gerakan menanam cabai dan bawang merah,” kata Antiek.
Program tersebut diawali dengan penanaman 1.100 bibit cabai secara serentak di lahan aset milik Pemkot Surabaya bersama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan anggota TPID. Selain itu, Pemkot juga mendistribusikan 25.000 bibit cabai kepada masyarakat melalui kecamatan, kelurahan, RW, dan RT.
“Kita membagikan kepada seluruh masyarakat melalui kecamatan, kelurahan, RW, dan RT sebanyak 25.000 bibit. Bibit-bibit tersebut diharapkan dapat ditanam di pekarangan rumah, lahan kosong, atau lingkungan sekitar, sehingga setiap keluarga bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan cabai skala kecil,” jelasnya.
Tidak hanya untuk warga, Pemkot Surabaya juga memberikan dukungan kepada kelompok tani dengan membagikan sekitar 6.000 bibit cabai. Bibit ini ditujukan untuk kelompok tani konvensional maupun urban farming.
Antiek menjelaskan, kelompok tani konvensional didorong menanam cabai dan bawang merah di lahan sawah yang luas, sementara kelompok urban farming memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah.
“Kelompok tani, baik konvensional maupun urban farming juga sudah mulai melakukan pembibitan dan penanaman secara mandiri sejak beberapa hari sebelumnya. Dengan demikian, kami berharap, tiga bulan ke depan, pada Desember sudah bisa dilakukan panen,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa program tanam serentak ini merupakan langkah antisipasi terhadap pola tahunan, di mana permintaan cabai dan bawang meningkat drastis menjelang Natal dan Tahun Baru, yang biasanya memicu kenaikan harga signifikan.
Dengan adanya program ini, Pemkot Surabaya berharap pasokan dari lahan pemerintah, kelompok tani, dan pekarangan warga dapat menekan ketergantungan pada pasokan luar daerah.
“Sehingga di bulan Desember ketika Natal dan Tahun Baru tidak terjadi kenaikan yang signifikan terkait dengan harga cabai di pasaran di Surabaya. Ini merupakan salah satu strategi TPID untuk mengendalikan inflasi, selain menjaga pasokan dari daerah asal. Dengan memberdayakan masyarakat dan kelompok tani, kebutuhan rumah tangga skala kecil bisa terpenuhi dari hasil panen sendiri, mengurangi tekanan pada pasar,” pungkasnya. ***



