Surabayaaktual.com – Komisi D DPRD Kota Surabaya menyatakan dukungannya terhadap langkah Wali Kota Eri Cahyadi yang menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7.7.1/ 18915/ 436.7.2/2025. SE tersebut terkait dengan Peningkatan Kewaspadaan dan Pencegahan Penularan Campak di Kota Pahlawan.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes, menekankan pentingnya langkah pencegahan dini mengingat campak telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Sumenep, Madura.
“Maka saya mendukung penuh SE Wali Kota ini. Tujuannya jelas, melindungi warga Surabaya dari ancaman campak sekaligus menyukseskan program vaksinasi,” ujar Michael kepada wartawan di Surabaya dikutip pada Rabu (17/9/2025).
Michael juga menekankan pentingnya strategi jemput bola agar anak-anak yang belum divaksin bisa segera mendapat imunisasi.
“Jangan menunggu warga datang ke puskesmas. Kita harus aktif mendatangi rumah-rumah bersama kader kesehatan hingga anak mendapatkan vaksin lengkap sampai dosis ketiga,” tuturnya.
Berdasarkan data, capaian imunisasi Campak-Rubella di Surabaya per Januari–Juli 2025 menunjukkan hasil positif.
Dosis pertama telah mencapai 60,1 persen, dosis kedua 60,7 persen, dan dosis ketiga bahkan menyentuh 76,71 persen. Angka tersebut melampaui target nasional sebesar 58 persen.
Ia berharap kolaborasi lintas instansi semakin diperkuat. Selain Dinas Kesehatan (Dinkes), keterlibatan Dinas Pendidikan (Dispendik), Kementerian Agama (Kemenag), dan perguruan tinggi dinilai penting. Hal ini mengingat penyebaran campak kerap terjadi di sekolah dan lingkungan masyarakat.
“Jika ada temuan kasus campak, harus segera dilakukan tracing untuk menemukan sumber penularan, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar. Dengan begitu penularan bisa ditekan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menegaskan bahwa SE tersebut menjadi panduan masyarakat untuk memutus rantai penyebaran.
“Mohon doa agar Surabaya tetap aman dari KLB. Fokus utama kami saat ini adalah mengejar imunisasi anak-anak yang status vaksinnya belum lengkap hingga terpenuhi seluruh dosis,” tutup Nanik. ***



